Si Penulis Malang
Aku adalah orang yang baru belajar menjadi seorang penulis. Walaupun dengan segala keterbatasanku, namun aku senang sekali meluangkan banyak waktuku untuk menggerakkan penaku pada setiap lembaran-lembaran kertas yang tersedia.
Beberapa kali aku bangga, karena tulisanku bisa terbit dan tercetak sempurna. Sungguh berbunga-bunga hati ini karena ternyata sebagai seorang penulis aku bisa membukukan tulisan-tulisanku sendiri.
Secara pribadi, keilmuanku tentang menulis sebenarnya juga masih terlalu dangkal. Banyak sekali ketentuan-ketentuan yang belum aku mengerti dan terkadang aku terobos dalam menulis karena kebodohanku.
Terkadang ada rasa bangga karena tulisan itu bisa menjadi sebuah buku. Namun ada perasaan hancur libur ketika ternyata sangat tidak mudah membumikan tulisan-tulisan itu di hati pembaca.
Aku merasa sangat insecure dengan kesenangan menjadi seorang penulis. Bahkan terkadang ada diambang keputusasaan.
Namun terkadang semangat itu tumbuh kembali, karena ada keinginan kuat dari dalam hati untuk terus menulis.
Seperti dikatakan bahwa tidak ada yang akan menjadi kenangan seumur hidup kecuali tulisan.
Walaupun nanti manusianya sudah tidak ada. Tidak memiliki banyak karya atau prestasi. Setidaknya ada tulisan yang bisa diapresiasikan sebagai tinggalan kita kepada anak cucu.
Namun ketika perasaan kacau itu muncul lagi. Seharusnya dari menulis itu ada hasil yang bisa dinikmati. Kesuksesan seorang penulis adalah ketika karyanya bisa dinikmati banyak orang. Dari sini terkadang aku merasa menjadi penulis yang gagal.
Apalah aku yang hanya bisa menulis tetapi tulisannya belum terbaca dan bisa dinikmati oleh khalayak banyak di luaran sana.
Terkadang melihat teman-teman di dunia menulis itu dengan mudahnya memasarkan tulisannya. Bahkan bisa dengan mudahnya mendapatkan banyak peminatnya. Apalah aku yang ternyata hanya bisa menulis tanpa bisa marketingnya.
Seperti apalagi. Kekuatan niat yang seperti apa yang harusnya bisa menjadi penguat dalam dunia kepenulisan ini.
Di lingkungan sekitarku ini yang ada orang-orang dengan kebendaan duniawinya. Jarang bahkan tidak ada yang menyukai dunia kepenulisan. Apalagi mau menjual, mencari yang mau baca saja sangat susah sekali.
Kepemahaman literasi membacanya sungguh sangat minim sekali. Sehingga untuk membeli buku dengan harga 50 ribu saja seakan berat dan lebih baik untuk membeli beras.
Sungguh menyedihkan sekali.
Barangkali teman-teman punya kritik, saran, masukan membangun supaya aku tetap pada keyakinan terus menulis bisa di share ya?
Atau mungkin ada marketer buku yang bisa berkolaborasi dengan penulis gagal seperti aku ini?
Semoga ada manfaat yang bisa dipetik dan mendapatkan kritik saran membangun untukku nanti.
Komentar
Posting Komentar